Lompat ke konten

When Life Gives You Tangerines: Sinopsis Drakor 2025 tentang Ae-sun dan Gwan-sik

Bacaan singkat

Foto IU
IU, salah satu pemain drama ini. Foto: 티비텐, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons.

TL;DR

When Life Gives You Tangerines menelusuri hidup Oh Ae-sun dan Yang Gwan-sik, dua anak miskin dari Pulau Jeju yang tumbuh bersama sampai tua. Kisahnya melompat antara 1950-an dan 2000-an lewat suara anak sulung mereka. Lembut, tapi siapkan tisu.

Info drama

Judul
When Life Gives You Tangerines
Tahun
2025
Episode
16
Negara
Korea
Genre
Romansa, slice of life
Pemain
IU, Park Bo-gum, Moon So-ri, Park Hae-joon
Tayang di
Netflix

Gadis Jeju yang bermimpi jadi penyair

Tahun 1951, Oh Ae-sun lahir di Jeju dalam keluarga yang serba kekurangan. Meski begitu, ia menyimpan cita-cita yang terdengar mewah: menulis puisi.

Sandarannya adalah sang ibu, Jeon Gwang-rye, seorang haenyeo yang menyelam untuk mengumpulkan hasil laut. Selama ada ibunya, Ae-sun masih punya tempat pulang. Tapi ketika usianya sekitar 10 tahun, ibunya wafat. Keluarga langsung terperosok, dan ayah tirinya menjadikan Ae-sun semacam pembantu di rumahnya sendiri.

Di tengah itu, Yang Gwan-sik hadir tanpa banyak omong. Teman sepermainan ini menyelundupkan ikan curian untuknya dan berani berhadapan dengan keluarganya sendiri. Puisi? Ditaruh dulu. Perut yang lapar jelas lebih mendesak daripada sajak.

Kabur ke Busan, lalu kembali dan menikah

Pada usia 18 tahun, Ae-sun berkunjung ke rumah nenek dari pihak ayah, Kim Chun-ok. Di sana pamannya menyuruhnya jadi buruh pabrik. Ae-sun menolak, dan malah mengajak Gwan-sik melawan keluarga lalu kawin lari ke Busan.

Sayangnya, rencana itu kandas. Keduanya tertipu, dan ibu Gwan-sik harus menjemput mereka pulang ke Jeju.

Ae-sun lalu seperti menyerah pada keadaan. Ia sempat bertunangan dengan Bu Sang-gil, kapten kapal nelayan yang berduit, dan Gwan-sik remuk karenanya. Tapi akhirnya Ae-sun memilih Gwan-sik, dan pernikahan pun terjadi.

Geum-myeong lahir. Demi dia, Ae-sun mau menerima pekerjaan yang berbahaya. Hidup serumah dengan keluarga Gwan-sik ternyata juga menguji kebahagiaan pasangan baru ini.

Topan yang merenggut Dong-myeong

Suatu waktu Gwan-sik menganggur, padahal Ae-sun tengah mengandung. Pertolongan datang dari arah tak terduga: induk semang mereka mengirim beras. Nenek Ae-sun yang berpunya pun menawarkan uang, dan Ae-sun menggunakannya untuk membeli kapal agar suaminya bisa melaut lagi.

Ada kehangatan juga di sini. Ae-sun melahirkan saat perayaan sedang berlangsung, dan Gwan-sik mendorongnya ke rumah sakit memakai gerobak. Tanpa bilang-bilang, Gwan-sik membeli rumah tempat Ae-sun kecil dulu tinggal. Begitulah cara cintanya bicara.

Anak mereka kini tiga: Geum-myeong, Dong-myeong, dan Eun-myeong. Lalu topan menghantam, dan inilah bagian paling pedih.

Dong-myeong menjatuhkan sekotak permen, dan Ae-sun menegurnya. Anak itu hanya minta dipeluk. Beberapa saat setelahnya, Ae-sun melihat Geum-myeong mengayuh sepeda di luar saat badai. Dua anak laki-lakinya ia titipkan ke tetangga, lalu ia berlari menyusul Geum-myeong. Pulang-pulang, keduanya sudah tak ada di tempat.

Eun-myeong akhirnya ditemukan. Dong-myeong tidak selamat. Dadamu pasti ikut sesak, apalagi teringat pelukan yang urung diberikan.

Setelahnya, tiap orang menghukum dirinya sendiri. Ae-sun menyesal karena meninggalkan rumah, Geum-myeong karena keluar, Eun-myeong karena tak menempel pada kakaknya. Gwan-sik menjadi tiang yang menopang, sehingga mereka perlahan pulih.

Waktu terus berjalan. Ae-sun bertarung melawan rival yang berbuat curang dalam pemilihan kepala desa. Geum-myeong dewasa dan berkesempatan belajar di Jepang. Demi mewujudkannya, Ae-sun dan Gwan-sik melepas rumah mereka.

Seoul, dua laki-laki, dan satu keputusan

Tanpa rumah, orang tua Geum-myeong menempati apartemen mungil dan pontang-panting menghadapi Eun-myeong. Sementara itu Geum-myeong kembali dari Jepang dan menetap di Seoul, bersama pacarnya sejak tahun pertama kuliah, Park Yeong-bum.

Di kota itu pula ia berkali-kali berpapasan dengan Park Chung-seop, seniman yang dulu memberinya upah melukis poster. Diam-diam Chung-seop menaruh hati. Ketika Geum-myeong keracunan karbon monoksida, Chung-seop yang membopongnya ke ambulans. Anehnya, ia berangkat wajib militer tanpa pernah mengaku. Duh, gemas.

Di Jeju, mimpi buruk tentang hari kehilangan Dong-myeong terus mengganggu Ae-sun, hingga ia memutuskan menengok putrinya. Di Seoul, ia menyaksikan langsung betapa ibu Yeong-bum memperlakukan Geum-myeong dengan dingin.

Geum-myeong pun goyah soal masa depannya. Ia membatalkan pernikahan dan pulang ke Jeju, meski Yeong-bum mencoba menahannya. Di penghujung bagian ini, Chung-seop yang telah bebas dari wajib militer melihat Geum-myeong di dalam bus dan berlari mengejarnya.

Musim dingin terakhir keluarga ini

Krisis ekonomi menghantam karier Geum-myeong. Di masa sulit itu ia kembali bertemu Chung-seop, dan keduanya mulai merajut hubungan baru.

Eun-myeong sendiri terjerat masalah. Orang tuanya memberikan semua yang mereka punya untuk menyelamatkannya, dan justru rasa percaya diri Eun-myeong yang runtuh. Kasih yang terlalu deras ternyata bisa menekan.

Lambat laun keadaan membaik. Gwan-sik membeli sebuah toko dan mengubahnya menjadi restoran, dan sajian cuminya laris. Hidup keluarga ini jauh lebih lapang. Eun-myeong kini ayah dua anak, sedangkan Geum-myeong, sebagai pengusaha, menyampaikan terima kasih kepada orang tuanya di atas panggung lewat pidato.

Jangan buru-buru lega. Drama ini belum selesai menguras air matamu.

Ending

Spoiler ending. Buka kalau berani.

Geum-myeong menjadwalkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk ayah dan ibunya. Dari situ Gwan-sik divonis kanker. Ia minta ditemani Geum-myeong setiap kali ke rumah sakit, dan pada satu malam keduanya larut dalam obrolan panjang, tertawa sambil menangis.

Saat dokter menyampaikan sisa waktunya tak banyak, Gwan-sik memilih pulang ke rumah. Di sana ia membenahi barang-barang yang rusak. Ae-sun membalasnya dengan kejutan: buku kumpulan puisinya akhirnya terbit. Untuk terakhir kalinya, Gwan-sik memanggul Ae-sun di punggungnya.

November 2006, Gwan-sik berpulang. Sebelum itu ia minta maaf karena tak sanggup meringankan hidup Ae-sun. Jawaban Ae-sun: berkat suaminya, tak sehari pun ia merasa sendirian. Sepeninggalnya, baru diketahui bahwa uang kiriman Geum-myeong ia simpan untuk anak-anaknya.

Di masa kini, Ae-sun mengajari para lansia di panti wreda Jeju membaca dan menulis, dan ia akhirnya diakui sebagai penyair. Geum-myeong mendirikan platform kuliah daring untuk mereka yang dulu tak sempat bersekolah. Karya Ae-sun menjangkau pembaca lebih luas lewat editor Chloe Lee, yang wajahnya sangat serupa dengan almarhum ibu Ae-sun dan membaca puisinya dengan bangga.

Geum-myeong menanyakan apakah ibunya bahagia. Ae-sun menjawab, ya. Penutupnya menyuguhkan Ae-sun dan Gwan-sik versi muda yang tertawa di hamparan hijau, sementara suara Ae-sun tua berjanji menanti sampai mereka berjumpa kembali.

Analisis kami

Hal yang paling mencuri perhatianku adalah cara drama ini menolak drama besar. Cinta Gwan-sik tak pernah berupa pengakuan megah. Ia hadir sebagai ikan curian, kapal, rumah yang dibeli diam-diam, dan uang yang ditabung buat anak-anak. Pilihan ini berani, karena penonton diminta percaya bahwa kebaikan kecil yang diulang bertahun-tahun lebih berbobot daripada rayuan.

Soal pendidikan, drama ini bermain halus. Ae-sun gagal sekolah dan harus mengubur mimpi puisinya. Beberapa dekade kemudian ia mengajar para lansia, sementara putrinya membuka akses belajar daring. Mimpi yang pernah dipatahkan tidak lenyap, hanya berpindah tangan dan membesar.

Tiga generasi perempuan, dari ibu haenyeo, Ae-sun, hingga Geum-myeong sang pengusaha, membentuk semacam estafet. Suara Geum-myeong dewasa sebagai narator memberi jarak yang hangat: kita menatap orang tuanya lewat mata anak yang akhirnya mengerti betapa mahal harga hidup mereka.

Alur maju mundur memang meminta kesabaran. Namun imbalannya nyata, sebab adegan yang kembali muncul membawa konteks lebih lengkap, dan luka para tokoh jadi kita pahami sedikit demi sedikit. Empat penghargaan Baeksang Arts Awards ke-61 termasuk Best Drama, serta predikat drama Korea terbaik 2025 dari majalah Time, terasa pantas.

9,0/10

Yang bikin nagih

  • Cinta digambarkan lewat pengorbanan sehari-hari, bukan adegan yang dilebih-lebihkan
  • Tema pendidikan dan tiga generasi perempuan memberi lapisan makna yang kuat
  • Narasi puitis sang anak sulung membuat kenangan terasa dekat dan hangat

Yang bikin gemas

  • Alur maju mundur menuntut kesabaran, terutama di awal
  • Muatan sedihnya berat dan bisa melelahkan bagi sebagian penonton

Nonton di mana?

Tonton resmi di Netflix →

Komentar